Sabtu, 14 April 2018

Ringkasan Materi Tata Kelola SDM Pemerintahan I

1. Pengantar Tata Kelola SDM Pemerintahan
Tata Kelola (Governance) -----------> Manajemen
•  Dalam konteks organisasi istilah manajemen berarti melakukan pencapaian tujuan (organisasi) yang sudah ditentukan sebelumnya dengan mempergunakan bantuan orang lain (George. R. Terry, 1960).
•  John M. Pfiffner (1960) masih menganggap bahwa manajemen berhubungan dengan pengarahan orang dan tugas-tugasnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Zaehuri (2014), menguraikan bahwa sumberdaya organisasi secara garis besar dapat dibedakan ke dalam dua kelompok, yaitu:
•  sumber daya manusia (human resources)
•  sumber daya non manusia (non-human resources).
Selanjutnya, menurut Veithzal Rivai Zainal (2009:1), manajemen SDM merupakan salah satu bidang dari manajemen umum yang meliputi segi-segi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian. Proses ini terdapat juga dalam bidang produksi, pemasaran, keuangan, maupun kepegawaian.
Sebelum membahas tentang manajemen SDM di pemerintahan yang sedikit banyak sudah terinspirasi dari manajemen swasta namun tetap bahwa antara swasta dan pemerintah mempunyai perbedaan yang cukup fundamental, oleh karena itu upaya untuk “menyuntikan” spirit yang ada di sektor swasta ke sektor publik harus memperhatikan berbagai hal yang itu merupakan keterbatasan-keterbatasan yang tidak sepenuhnya seratus persen sukses di sektor swasta dapat diaplikasikan di sektor publik.
Secara garis besar banyak ditemui persamaan-persamaan fungsi antara manajer publik dan manajer swasta dalam mengelola SDM. Fungsi-fungsi manajemen yang dirumuskan secara sederhana oleh Gullick dan Urwick disingkat dgn POSDCORB (Planning, Organizing, Staffing, Directing, Coordinating, Reporting, Budgeting) juga dilakukan baik oleh manajer swasta maupun publik.

2. Manajemen SDM pemerintahan dan Ruang lingkup
Manajemen SDM  pada instansi pemerintahan harus tunduk pada regulasi yang ditetapkan baik oleh pemerintah pusat maupun daerah, sedangkan untuk sektor swasta lebih leluasa untuk menentukan teknik dan mekanismenya sendiri tetapi tetap harus memperhatikan prinsip-prinsip yang harus ditepati sesuai undang-undang (Zaehuri, 2014) .

Ranson & Stewart, secara umum menggambarkan perbedaan manajemen sektor publik dan sektor swasta dari aspek pelayanan dapat dilihat dari :


1.      Pertama, sektor swasta lebih mendasarkan pada pilihan individu (individual choice) dalam pasar. Organisasi sektor publik mendasarkan pada tuntutan masyarakat yang sifatnya kolektif (massa).

2.      karakteristik sektor swasta adalah dipengaruhi hukum permintaan dan penawaran (supply and demand). Adanya kebutuhan masyarakat terhadap sumber daya, seperti air bersih, listrik, keamanan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya menjadi alasan utama bagi sektor publik untuk menyediakannya.
3.      manajemen di sektor swasta bersifat tertutup terhadap akses publik, sedangkan sektor publik bersifat terbuka untuk masyarakat terutama yang terkait dengan manajemen pelayanan.
4.      sektor swasta berorientasi pada keadilan pasar (equity of market) Sementara itu, orientasi sektor publik adalah menciptakan keadilan kebutuhan (equity of need).
5.      tujuan manajemen pelayanan sektor swasta adalah untuk mencari kepuasan pelanggan (selera pasar), sedangkan sektor publik bertujuan untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan sosial.
6.      organisasi sektor swasta memiliki konsepsi bahwa pelanggan adalah raja. Pelanggan merupakan penguasa tertinggi. Sementara itu, dalam organisasi sektor publik kekuasaan tertinggi adalah masyarakat.
7.      persaingan dalam sektor swasta merupakan instrumen pasar, sedangkan dalam sektor publik yang merupakan instrumen pemerintahan adalah tindakan kolektif.
Kekuatan sektor swasta adalah kekuatan pasar, sehingga kekuatan pasar yang akan memaksa orang membeli atau keluar dari pasar. Sektor swasta bisa membebankan harga yang berbeda untuk pelanggan yang berbeda dan hal ini tidak akan mengundang protes berupa demonstrasi. Akan tetapi, jika pemerintah sebagai organisasi penyedia layanan publik menaikkan harga pelayanan publik, misalnya harga BBM, tarif dasar listrik dan telepon, tarif PDAM, maka hal tersebut akan mengundang reaksi yang hebat dari masyarakat.
Lingkup manajemen SDM menurut (Edwin B Flippo, 1994) dapat diidentifikasi dari fungsi yang meliputi: Pengadaan, Pengembangan, Pemberian kompensasi, Pengintegrasian, dan Pemeliharaan serta pelepasan Sumber Daya Manusia, ruang lingkup manajemen sumber daya manusia sangat luas.
Dari lingkup Manajemen Sumber Daya Manusia tersebut maka Manajemen SDM di Pemerintahan dijelaskan berbagai fungsi antara lain:
1.        Analisis pekerjaan
2.        perekrutan tenaga kerja
3.        seleksi tenaga kerja
4.        penempatan tenaga kerja
5.        induksi dan orientasi
6.        pemberian kompensasi
7.        pendidikan dan pelatihan
8.        penilaian kinerja
9.        Mutasi
10.    Promosi
11.    Pemotivasian
12.    pembinaan moral kerja
13.    pembinaan disiplin kerja
14.    penyeliaan tenaga kerja serta pemutusan hubungan kerja
Pada pasal 55 UU No. 5 tahun 2014 lingkup manajemen SDM di pemerintahan mencakup: peyusunan dan penetapan kebutuhan, pengadaan, pangkat dan jabatan, pengembangan karier, pola karier, promosi, mutasi, penilaian kinerja, penggajian dan tunjangan, penghargaan, disiplin, pemberhentian, jaminan pensiun dan jaminan hari tua, dan perlindungan.
3. Teori-teori dalam tata kelola SDM
Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah.
Labovitz dan Hagedorn mendefinisikan teori sebagai ide pemikiran “pemikiran teoritis” yang mereka definisikan sebagai “menentukan” bagaimana dan mengapa variable-variabel dan pernyataan hubungan dapat saling berhubungan. Adapun pengertian teori yang lebih sederhana yaitu :
•      Teori ialah serangkaian variabel, definisi, dan dalil yang saling berhubungan dan membangun pandangan sistematis dari sebuah fenomena dengan tujuan menjelaskan berbagai gejala alamiah yang terjadi.
•      Teori ialah pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa atau kejadian.
•     Teori ialah suatu pemikiran, penelaahan serta penelitian yang telah diakui keabsahannya secara ilmiah.
   Selanjutnya, Teori dan konsep mengenai manajemen sumber daya manusia terbagi atas 3 tahap perkembangan Miles (1975) :
1. Tradisional (Traditional)
Pada awal pertumbuhannya, gerakan manajemen tradisional yang juga dikenal dengan nama manajemen ilmiah lebih menyoroti peningkatan efisiensi dan produktivitas para pekerja dalam menggunakan mesin-mesin yang mahal, dan bukan pada perlakuan para pekerja yang sesuai dengan harkat dan martabatnya.
Konsep ini Identik dengan pelaksanaan kegiatan-kegiatan manajemen secara dasar yaitu bagaimana tugas pokok manajer yang hanya harus mengawasi pekerjaan dari dekat, merinci tugas supaya dapat lebih mudah dan sederhana, serta harus mengembangkan tugas-tugas dan prosedur yang ditaati secara sungguh-sungguh, sehingga masing-masing pegawai atau pekerja dapat menjalankan aktivitasnya dalam bekerja secara efektif dan efisien.
Munurut Henry (1980), Model tradisional ini tidak terlepas dari pengaruh teori birokrasi. Adapun karakteristik model birokrasi Weber adalah sebagai berikut :
a.    Hierarki
b.    Promosi atas dasar ukuran professional dan keahlian
c.    Adanya jenjang karier
d.    Ketergantungan dan penggunaan peraturan dan regulasi
.    Hubungan impersonalitas di antara para professional karier dalam birokrasi dan hubungan mereka terhadap nasabah (pihak yang dilayaninya).

2.      Hubungan Kemanusiaan (Human Relation Theory)
Model ini merupakan pengembangan dari model tradisional. Diawali Kajian Hawthrone, yang merupakan serangkaian kajian yang dilakukan pada tahun 1920-an hingga 1930-an Kajian ini awalnya bertujuan mempelajari pengaruh berbagai macam tingkat penerangan lampu terhadap produktivitas kerja. Kajian dilakukan di Western Elictric Company Works di Cicero, Illenois.Hasil eksperimen ini mengkritik model tradisional yang menyamakan manusia dengan mesin. Seharusnya manusia diperlakukan seutuhnya sebagai makhluk yang memiliki perasaan, keinginan, kebutuhan dll. Disini cikal bakal lahirnya teori-teori perilaku organisasi.
Teori ini nampaknya memang diilhami dari persepsi terhadap manusia yang bersifat positif. Manusia mau bekerja bukan hanya dalam rangka memenuhi kebutuhan fisiknya semata, tetapi juga berkeinginan agar kehadirannya dalam organisasi dapat diakui oleh sesama anggota organisasi lainnya. Eksistensi itu bisa dilakukan dengan cara menjalin kerja sama yang erat antara sesama anggota organisasi.

3. The Human Resource Model
Model Human Resources sebenarnya adalah juga pengembangan dari model Human Relation. Model ini memberikan asumsi yang mengutamakan kebutuhan-kebutuhan psikologis dan keamanan bagi karyawan. Menurut model ini, manusia bukan sekedar ingin diakui kebutuhannya, tetapi lebih dari itu manusia juga ingin memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan menerapkan keahliannya dan memperoleh kepuasan seperti apa yang diinginkannya, serta memperoleh tujuan yang bermanfaat. Model Human Resources ini memang banyak dipengaruhi dari teori hierarki kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow.
Maslow menjenjangkan kebutuhan manusia dari kebutuhan yang paling dasar hingga kebutuhan aktualisasi diri. Di dalam teori tersebut disebutkan bahwa manusia disamping butuh status, pengakuan, penerimaan, tetapi juga memerlukan pengakuan yang adil untuk mengembangkan dan menerapkan segala kemampuannya serta mendapatkan kepuasan dalam bekerja.
Melalui pendekatan Human Resources manusia tidak hanya dipandang sebagai factor produksi. Logika asumsi ini berasal dari harapan yang ingin dicapai dari model ini, yaitu dengan memperluas pengaruh, pengarahan, dan control yang berasal dari dalam diri setiap manusia yang ada di dalam organisasi akan membawa tercapainya pengembangan operasi yang efisien.
Contoh salah satu Teori dalam manajemen SDM adalah Teori Motivasi. Anwar Prabu (2006: 61) Motivasi adalah Kondisi atau energi yang menggerakan diri karyawan yang terarah atau tertuju untuk mencapai tujuan organisasi perusahaan.
Saydam (2000) mengemukakan motivasi kerja dipengaruhi dua faktor, yaitu faktor intern (faktor yang bersumber dari dalam diri karyawan) dan faktor ekstern (faktor yang bersumber dari luar diri karyawan). Faktor intern yang terdiri dari tingkat pendidikan, kebutuhan, dan kepuasan kerja, sedangkan faktor ekstern yang terdiri dari kondisi lingkungan kerja, kompensasi yang memadai, dan penghargaan atas prestasi.


Kamis, 15 Februari 2018

Pengumuman Nilai Tata Kelola Bencana

 
Keterangan:
Komplain nilai Terbuka setelah nilai ini diumumkan diblog, silahkan komunikasi dengan ketua tingkat atau hubungi dosen pengampuh MK.  Mekanisme Komplain Nilai berlaku sampai tanggal 19 Februari 2018, Pukul 11.00. Setelah itu nilai  ini akan diproses SIMAK.

Nilai
Huruf
85-100
A
75-84
B
65-74
C
55-64
D
0-54
E

   
  Kelas IP 5- 4


NO
Nama
Angka
Huruf

NURILAH
84
B

SUMARTINI
85
A

NURDIANA USMAN
85
A

ANDI IKA NURUL FADHILAH
88
A

EKA LESTARI
88
A

LISNAWATI
89
A

SITI HARTINA AZZAHRA MUSTAKIM
92
A

WILLY AKHYAR
65
C

NUR AFNI RAMLI
87
A

MUH RIVALDI A TADDA
65
C

ASTIYANA BAHTIAR
87
A

MUH KHALIFAH P.H.W
89
A

ERNI
94
A

MUH MULYADI
85
A

WAHYU WANDI
85
A

ASTRI HASAN
85
A

MUH QURRATUN A'YUN MUHIDDIN
84
B

ABD RAHMAN
93
A

SYAMSIR
85
A

ANDI RISNA
90
A

PUJI ASTUTIK
86
A

A TENRI FAUZIAH MAHYUDDIN
85
A

NOVHITA DEWI ANGGARIKSA PUTRI
90
A

MUHAMMAD FARID AMRULLAH
  83
B

ANDI DWI AGUNG PEBRISAL
85
A

AHMAD LUTFI
80
B

ROSMIATI
85
A

MAGFIRAH
85
A

MUHAMMAD ZULFADRI
65
C

ARDITA PRATIWI
85
A

M YUSUF
-
E

IDZAL SALWA
85
A

ANDI DESI NOFIANTI
86
A

WIWIK SRI RAHAYU
85
A

MUH. RESKI RAMADHAN
75
C













































   KELAS IP-05

Nama
Angka
Huruf
MUH. SAID MARSUKI 
-
T
MUH. AKBAR
75
B
RAHMAT
65
C
MUHAMMAD NUR
75
B
TENRIAWARU S.A
85
A
WIDIYAH ASTUTI
88
A
NUR ENDENG
90
A
MUHAMMAD AS AD AMIN
89
A
FEBY FEBIYOLAH HAMKA
86
A
ELSYARI
85
A
AHWAL GUNAWAN RASYID
95
A
ISMA WAHYUNI
78
B
FADHIL AMIR
85
A
MUHAMMAD IRHAM TOLA
86
A
SULASTRI DEKAKUTATARI
85
A
ZULFIKRAN
85
A
RAHMAT HIDAYAT
85
A
SULFIANI SUPARDI
97
A
ASTRIA SULASTRI M
75
B
RISKA ADELYA
85
A
SRY HANDAYANI
86
A
A DEWI ANGRIANI
85
A
HARTINA
86
A
RINDIANI ULFA
85
A
SUPARDI
87
A
MASDA ULFA
87
A
APRIANI
86
A
MUH ARDIANSYAH
78
B
FEBY AULYA ANANDA
90
A
NURYANI AZWAT
85
A
MABRUR
87
A
NIDA HASA JAPUR
96
A































 KELAS IP-06

Nama
Angka
Huruf
DEDY KURNIAWAN
-
E
ST RAODAH SYAM
85
A
MUH AQRAM
     86
A
ARIE PURNAMA
86
A
ST RAFIKA ABRIANTI NUSDIN
89
A
MUHAMMAD ARHAM JABAL
85
A
RISKA AMALIA
90
A
RAMDHIN
84
B
ANDI ASMAR FAJAR
75
B
A SUSIANA
86
A
RISFANDI
75
B
FIFI FEBRIANTI
86
A
ARROFIQUL YALA
-
T
JUSPIANA
-
T
HERLINA
87
A
SAHRUL GUNAWAN
86
A
FERAWATY
90
A
ISDARYANI
79
B
ST ASTRIA LESTARI
85
A
NUZUL BAYYINAH
85
A
AWWAL NUR W HAWASAL
92
A
EKA SUSANTI
85
A
PUTRIANI PRATAMA
85
A
SITTI ARIATI AS B
85
A
RASYIDAH FIKRI
85
A
NOVIA TRIANA
85
A
NURJAYANTI
83
B
NURSALAM
    76
B
RAHMI RAMADHANTI
85
A
VISTA ANDRIANI SAKTI
92
A
MUHAMMAD RIZAL
85
A
JUMRATUL ISLAMIAYAH
86
A
HAMZAH S
93
A
NUR FANNY A
86
A


 
KELAS IP V-07

NO
NAMA
ANGKA
HURUF

FARIDA UTAMI
85
A

FAHRUN ANUGRAH
0
E

RAHMAD HIDAYAT
75
B

HILDAYANTI
86
A

NUR ASIPA DEWI
76
B

NURMUTMAINNAH MUHAMMADIJAH PUTRI
85
A

DWI NUR ILMA AULIA
87
A

FATMAWATI
85
A

RESKY RAMADANI
75
B

SISKA ALVANIGSI
86
A

SYAHRIL ADRIANSYAH
87
A

A MUH SYAKIR NI'MAH
85
A

MUHAMMAD RIFKI RAZAK
86
A

RISKA AMELIA MELDA MALIK
87
A
JANWAR RACHMAT DG SIBALE ABAS
89
A

PRILLA LIANDINI
85
A

NURUL KHAMISAH RAHIM
86
A

SUKARMIN
76
B

FAHRUDDIN P. DEPPARAGA
86
A

ALMUKRAM
85
A

ASWAR JALIL
86
A

WAHDANIA SUARDI
89
A

ALDIANSYAH F
85
A

NUR RAHMA
86
A

AYU LESTARI
86
A

AHMAD AZHAR MAWARDI
0
E

NURFADILLAH
86
A

BASO SYAHRULLAH MUSLIMIN
89
A

NUR CAHYA
86
A

UYUN KHATIMAH MULIA
89
A

MUSAKKAR
91
A

EGHA ADIARTI DESITASARI INDAR
98
A